![]() |
| Masyarakat buat tenda darurat di sawah tadahan karena ketakutan. - Dokpri |
Papa, mana itu gempa? Kok tidak datang lagi? Begitu anak saya yang berusia 3 tahun, Enos atau Enaimo Rosario bertanya suatu pagi ketika saya lagi ngopi.
Lalu saya jawab, gempa su pigi lagi. Anak ini pun cari lagi. Dimana gempa itu?
Pokoknya dia cari gempa tersebut sampai terlihat. Sampai diraba atau disentuh. Pokoknya sampai dapat.
Dalam pikiran anak sekecil dia, gempa ini semacam benda berwujud. Mungkin seperti ayam, babi, pisang, dan benda berwujud lainnya.
Dia kira gempa berbentuk seperti mainan. Ini beralasan karena memang sejak 15 Agustus 2026, tiap hari anak ini mendengar kata gempa.
Di sini gempa susulan terus terjadi. Banyak terjadi gempa susulan setelah gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 menghantam Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Tiap beberapa menit setelah kejadian Sabtu pagi itu, bumi Flores digoyang gempa tektonik susulan. Hingga Rabu, 2 September 2026, menurut catatan BMKG seperti dilaporkan Kompas.com pada Rabu, gempa susulan sebanyak 11.270 kejadian.
Hingga tulisan ini dibuat pada Kamis, 3 September 2026, pukul 20.37, menurut laporan aplikasi Detektor Gempa sebanyak 1.120 kali gempa dalam 24 jam terakhir. Artinya, sudah 12.390 kali gempa susulan. Luar biasa.
Dari goncangan ringan, sedang dan berat. Gempa susulan datang terus. Gempa susulan dari magnitudo 2 sampai 5 setelah magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Dan di tenda darurat, anak ini terus bertanya, dimanakah gempa itu? Dan sebentuk apakah dia?
Saya pun membatin, sampai kapan bumi Flores berhenti bergoyang?
Begitulah sekilas catatan pembuka pada artikel ringan ini. Ihwal gempa Flores.
![]() |
| Keceriaan anak-anak di tengah situasi darurat gempa. - Dokpri. |
Pulau Flores memang rawan gempa. Daerah cincin api Pasifik–jalur gempa bawah laut. Ditambah banyak gunung berapi–dari Manggarai di barat hingga Adonara dan Lembata di timur.
Gempa tektonik bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus membuat banyak masyarakat trauma. Tidur di luar rumah–di tenda darurat di luar rumah, bikin basecamp di kebun, dan tempat-tempat lainnya yang dianggap aman.
Saya punya cerita lain lagi. Senin pagi, 24 Agustus 2026, sekitar pukul 5 pagi, saya bangun dan duduk sedetik. Saya pun teringat bahwa hari ini saya berulang tahun.
Maitua su bangun duluan lantas ke dapur untuk masak. Tapi saya masih di tempat tidur. Jaga Enos yang masih terlelap.
Pagi ini saya harus berdoa. Duduk barang sedetik untuk mensyukuri rahmat usia yang baru.
Tiba-tiba gempa datang lagi. Dengan cekatan saya mengangkat Enos untuk lari ke luar. Padahal baru mulai doa. Baru bikin tanda salib. Ai mama e, doa pun tra jadi.
Maitua memanggil saya dari dapur, karena dia mengira saya ketiduran. Ternyata saya dan jagoan su lari ke luar.
Jagoan masih tertidur ketika saya menggendongnya ke luar rumah. Dan pagi ini saya tidak jadi berdoa karena gempa.
Ah, gempa ‘kurang ajar’ ini. Sampai kapankah berhenti? Sampai kapan orang Flores berhenti dari trauma karena gempa bumi?
Seandainya negara ini punya teknologi canggih, seperti Jepang, misalnya, alarm babunyi sebelum gempa, maka tidak banyak yang mati. Tidak banyak yang buat tenda di luar rumah. Tidak banyak rumah yang ambruk atau retak. Tidak ada jalan raya yang menganga atau longsor.
Tapi sudahlah. Sekian dulu cerita tercecer tentang gempa ini, gempa Flores. Saya yakin, masih banyak kawan yang punya cerita–seperti kisah saya dan Enos tadi.
Dan tulisan terapeutik ini berakhir dulu sebelum gempa datang lagi. Sebelum goyangan tanah bikin kaget setengah mampus. []
#Lelak, Manggarai, 3 September 2026

