Euforia pilkades

Pilkades

Ilustrasi. Suasana pemilihan kades di salah satu desa di Kecamatan Lelak, Manggarai, Flores, Rabu, 8 Oktober 2026. - FB/Oman Ova Jane.

Orang-orang joget-joget. Musik tampias. Telinga betul-betul kerja keras. Saat berkomunikasi, omong juga harus bernada tinggi kalau tidak mau suaranya dibunuh musik.

Musik tempo cepat seakan berlomba dengan hentakan kaki dan acungan tangan serta teriakan. Berlomba-lomba.

Sementara hari makin gelap dan angin berembus hingga tulang kering terasa nyilu. Massa tak hiraukan itu. Pokoknya kali ini kita happy karena jagoan menang.

Di tiap posko atau tenda yang menghelat pemilihan kepala desa atau pilkades serentak, suasananya hampir pasti sama. Begitu riuh. Yang menang happy ending. 

Itulah pemandangan yang lumrah ketika melewati desa-desa atau kecamatan yang menghelat pilkades serentak pada Rabu, 8 Oktober 2026 di Kabupaten Manggarai, Flores. 

Mereka yang menang bereuforia. Senang-senang. Joget-joget. Nyanyi-nyanyi. Yel-yel “Hidup jagoan!!”, “Hidup jagoan!!” menggema.

Sedangkan yang kalah? Mereka harus lapang dada. Harus siap menerima kemenangan yang tertunda itu. Harus berjiwa besar.

Mereka harus kembali menata strategi dan taktik. Pola kampanye atau pendekatan harus dievaluasi. Akomodasi dan logistik harus dimantapkan. Pastikan trada dukungan atau bekingan abu-abu. Itu pun jika kelak ingin maju lagi. 

Kalah-menang itu memang biasa. Ada yang menang pasti ada yang kalah. Memang begitu. Tidak mungkin menang semua atau kalah semua. 

Kalau ada yang menang, maka ada yang kalah. Kalau ada yang kalah, maka harus ada yang menang. Harus terima itu. 

Kalau tidak mau terima, ya, mending duduk, diam, dan jadi warga biasa. Jangan ikut berkontestasi.

Tapi masyarakat ini sudah dewasa. Mereka siap menerima kemenangan dan kekalahan jagoannya.

Tapi tunggu dulu. Perjuangan kandidat pemenang pilkades tak berhenti di sini. Mereka tidak hanya senang-senang. Tidak sekadar euforia sehari.

Bisa saja Rabu petang ini, mereka senang-senang, gembira ria atau euforia, tapi beban besar masih menanti.

Di pundaknya ada beban besar yang mesti dipikul. Mungkin terkait kemajuan desa, kesejahteraan rakyat desa, pembangunan infrastruktur dan pembangunan lainnya. 

Karena memang mereka dipercaya dan dipilih karena dianggap punya banyak kelebihan. Mungkin otak atau wawasan yang luas. Kemampuan memimpin desa, punya karisma, dan jaringan yang luas dalam melobi.

Atau bisa saja karena banyak modal-- saat kampanye, akomodasi, transportasi, logistik dan mungkin “beli suara” dan “beli bekingan”.

Namun demikian, di balik banyak kelebihannya itu, yang terpilih itu, ada tanggung jawab besar dan beban moral untuk mewujudkan visi-misinya.

Karena mustahil warga desa memilih patung. Tidak mungkin memilih orang yang tidak punya gebrakan. Tidak mungkin itu. Dia pasti punya kelebihan.

Sejak kadesnya terpilih, semua warga desa, kubu menang dan kalah, harus mulai menjadi anjing penjaga. Warga harus siap mengontrol kepemimpinan kadesnya.

Pola kepemimpinannya harus dikritik atau dikoreksi jika dia berjalan di luar jalur. Sebab ada Undang-Undang Desa yang mengaturnya. Pokoknya ada aturan-aturan atau undang-undang yang harus dia patuhi. 

Juga ada BPD (Badan Permusyawararan Desa) yang bersamanya. Ada dusun dan staf. Dan yang lebih penting, kita adalah warga yang harus jadi anjing penjaga untuk memberikan masukan atau koreksi.

Dia harus diberi masukan jika hanya memperhatikan kubunya. Dia harus memperhatikan semua warga desa. Baik yang punya potensi atau gagasan memajukan desa, maupun masyarakat yang belum sejahtera.

Bukan KUD (Kodo Uku Data, Kawe Uku Deru) atau mencari masyarakat sesuku. Bukan itu. 

Dia, kades terpilih itu, adalah pemimpin semua warga desa. Kita semua masyarakatnya. Roeng diha taung. Kades dite taung.

Kita harus menjadi mitra dan pendukungnya. Dan proficiat bagi mereka yang terpilih jadi kades. []

#Ujung kampung, 9 Oktober 2026