Satu nusa sopi bangsa

Tuak sopi
Sopi (kiri) yang sudah diracik dengan ramuan dan tuak raja (kanan). - Dokpri

Satu nusa sopi bangsa. Judul ini terkesan lebay atau sotoy. Tapi saya kira agak ramah lidah. Biar enak dan memikat saja. Seperti sopi atau kopi. Ya, sopi—minuman lokal dari Nusa Tenggara Timur. Produksi anak bangsa.

Jika pembaca mendengar atau pernah meminum sopi, tuak raja, moke atau apapun namanya, tulisan sederhana ini sedianya menambah referensi Anda. Terutama karena saya mengulas sedikit gambaran tentang minuman lokal itu dalam perspektif budaya Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Tulisan ini, semata-mata pikiran subjektif dan mozaik-mozaik yang tersimpan dalam memori penulis.

Bagaimanapun stereotip dan stigma (kalau ada) terhadap barang yang satu ini harus dipatahkan. Saya tidak sedang memandang sopi atau tuak raja, yang berdampak pada kriminalitas. Itu ranah lain. 

Dan tulisan ini memberikan semacam informasi dan pemahaman tentang sopi atau tuak raja dalam konteks budaya Manggarai. 

Pertama-tama tentang tuak raja. Tuak raja atau tuak bakok diproduksi dari pohon enau (Arenga pinnata). Dalam bahasa Manggarai disebut raping. Pohon jenis palem ini juga banyak dijumpai di beberapa daerah di Indonesia.

Aktivitas memproduksi tuak itu disebut pante tuak. Hasilnya berupa air nira, yang kadang-kadang manis dan pahit. 

Tuak juga biasa dijadikan air minum yang manis bernama mince. Atau gula merah (gola malang). Prosesnya dilakukan dengan cara dimasak dan ditaruh dalam mal sehingga menjadi gula merah.

Mince dalam dialek Kolang di Kecamatan Kuwus dan sekitarnya (bagian timur laut Kabupaten Manggarai Barat) adalah minse.

Kolang dan sekitarnya terkenal dengan mince dan gola malang-nya. Terutama karena populer dalam syair lagu “molas sale mai Kolang”. Gadis-gadis cantik dari daerah Kolang.

Selain dijadikan gula atau mince tadi, air enau kemudian menjadi minuman lokal beralkohol. Namanya tuak raja

Tuak juga dimasak dan disuling. Hasil sulingan kemudian menjadi minuman baru bernama sopi. 

Butuh beberapa hari untuk mendapatkan tetesan-tetesan uap dalam satu tong sopi.

Sedangkan air enau, yang kadang-kadang dicampur kulit pohon damer menjadi agak pahit dan “bikin pusing” namanya tuak. Lebih tepatnya tuak raja tadi.

Saya tidak tahu apakah penamaan tuak raja merujuk pada raja (pemimpin politik) pada masa kerajaan. Apakah itu memang minuman favorit para raja? 

Tapi dalam bahasa Manggarai, raja artinya yang kelihatan, secara fisik, nyata. Raja lawannya yang abstrak. 

Dari arti raja (yang nyata) ini saya menduga bahwa tuak raja merujuk pada tuak yang tidak diproses (air enau asli dan hanya dicampur sedikit kulit kayu). Sedangkan sopi itu yang sudah diproses dari tetesan uap (abstrak).

Kadar alkohol tuak raja lebih rendah. Diperkirakan setara bir atau hanya 4 persen etanol (C2H5OH). 

Sopi pun demikian. Entah berapa persen. Tapi kerap disebut sopi biasa dan BM atau bakar menyala. Sopi BM juga ada nomor 1 dan nomor 2.

Di beberapa daerah di Flobamora, ada yang menamainya moke dan sopi. Di Maluku juga disebut sopi, dan Cap Tjikoes di daerah Manado dan Minahasa, Sulawesi Utara atau arak di Bali. 

Dalam KBBI ditemui kata sopi, artinya minuman keras. Bahasa Belanda menyebut kata zoopje yang berarti alkohol cair.

Apa pentingnya saya menulis tentang sopi dan tuak raja ini? Sebagai orang berbudaya, saya akan memberi tahu bahwa stereotip atau stigma atau apapun namanya tentang tuak raja dan sopi, diakibatkan oleh ketidaktahuan. 

Kalau pun ada oknum-oknum yang melakukan tindakan-tindakan kriminal karenanya, itu karena kebodohan kalau tidak mau disebut biadab, dan tidak lantas digeneralisasi.

Pada galibnya sopi mengandung nilai-nilai budaya, ekonomi, sosial, dan nilai filosofis bagi orang Manggarai dan hampir pasti untuk orang Flobamora pada umumnya. 

Oleh karena itu, saya akan mengulas secara sederhana tentang penggunaan sopi dalam budaya Manggarai.

Tuak raja maupun sopi digunakan dalam aktivitas budaya Manggarai. Tapi hanya dinamakan tuak 

Ketika digunakan dalam prosesi adat, maka namanya hanya “tuak”. Misalnya tuak kapu atau tuak reis, tuak laing, tuak baro sala, dan tuak-tuak lainnya. Bukan sopi kapu, sopi reis, dan sopi-sopi lainnya.

Tuak kapu atau tuak reis

Tuak kapu atau tuak reis merupakan simbol penyambutan. Kapu artinya memangku dan reis artinya menyapa/menegur. Tamu diterima atau disambut dengan cara di-reis dan dipangku.

Pada masa lalu, gadis yang sudah dipinang dipangku atau digotong, lalu diarak-arak menuju kampung dan rumah adat. Namun, dalam situasi lain, kapu hanya disimbolkan dalam tuak kapu tadi.

Dalam upacara atau pesta sekolah, misalnya, ada ungkapan seperti ini:

“Mori, hitut bao ko?” (Tuan, terima kasih karena kalian sudah datang dan menghadiri undangan kami). Dan dijawab serempak, “Iyo, ite!!” (Ya, Tuan).

Lalu dilanjutkan, “Mori, ai olo lami tombon, rewengn agu wewa te bantang cama reje lele wie ho’o. Ole ho’o neng mai itet Mori. Bombong keta dami rak, mohas nai. Neho joeng tuka koe, neho tendeng tuka mese. Naka lami neho wua pandang kapu neho wua pau. Te kapu lami ite, mese baild itet mori. Ole, hoo kin tuak dami!”

Terjemahan bebas:

 “Tuan, sudah lama kami beri tahu, menyuarakan tentang pesta bersama malam ini. Aduh, kami senang karena tuan-tuan sudah hadir. Hati kami berbunga-bunga. Perut kami ibarat buah joeng dan tendeng. Kami menyambut seperti mendapat buah nanas dan mangga. Kami mau pangku kalian, tapi kalian lebih besar dan tidak bisa dipangku seperti anak kecil. Karena itu, inilah tuak simbol penyambutan dan penghormatan kami.”

Joeng merupakan salah satu jenis tumbuhan liar yang tumbuh di hutan. Modelnya seperti pete atau petai, tapi agak besar. Buahnya lonjong.

Pada zaman dulu joeng biasanya dijadikan mainan oleh anak-anak di natas (halaman kampung). Jika sudah kering, bunyi joeng seperti gemerincing kerikil atau kelereng. 

Sedangkan tendeng (tadu joreng), adalah penutup wadah penyimpan padi. Semacam lumbung, tetapi terbuat dari anyaman kulit bambu atau suluh. 

Joeng untuk tuka koe (perut kecil/usus) dan tendeng untuk tuka bara mese (usus besar). Intinya ungkapan “neho tendeng tuka mese neho joeng tuka koe” menggambarkan kerendahan hati, kerendahdirian, dan kebanggaan (berbesar hati).

Pada masa lalu, orang-orang Manggarai menyuguhkan tamu secara istimewa. Dia diberi makan nasi, sedangkan tuan rumah hanya makan jagung atau ubi. 

Lauknya sangat istimewa berupa ayam kampung. Sedangkan tuan rumah dan anak-anak hanya menunggu sisa.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa orang Manggarai sangat menghargai tamu. Apalagi kalau tamunya pakai celana panjang, wangi, datang dari kota dan berbahasa Indonesia.

Pelayanannya sangat istimewa. Ada istilah “toe tombos cokol, toe turas tuda” (kekurangan dalam rumah jangan diketahui orang lain).

Tuak perdamaian

Jika dalam sebuah kampung ada oknum-oknum bermasalah, maka dia harus meminta maaf kepada warga kampung. Kesalahannya bisa bermacam-macam, misalnya, bawa lari istri orang (roko) atau dalam ungkapan bahasa Manggarai “lengga wakas", dan kesalahan fatal lainnya.

Permintaan maaf dilakukan di mbaru tembong (rumah adat), disaksikan tua golo (kepala kampung) dan masyarakat kampung. Oknum tersebut meminta maaf dengan membawa tuak dan rokok. 

Kalau pun dia nanti didenda (biasanya babi) dan bertobat, terlebih dahulu dilakukan permintaan maaf.

Permohonan maaf disimbolkan dengan tuak dan rokok. Pada masa lalu rokok dibuat secara tradisional. Terbuat dari gulungan tembakau dan daun lontar (koli) atau daun jagung.

Tuak permohonan maaf juga diberikan saat dua kubu bermasalah. Namanya tuak baro sala. Tindakan meminta maafnya disebut tuak laing. Mereka pun saling memaafkan dan bersepakat untuk berdamai (hambor).

Rapper Flores asal Ruteng, Manggarai, Lipus atau Lipooz (kini grup 16 Bar Indonesia) dalam lagunya “Sopi/Satu Sloki” menyebut tentang sopi sebagai minuman perdamaian.

Saya menduga lagu itu terinspirasi atau refleksi dari hambor tadi. 

Namun, lagu ini lebih pada “kekinian” khas anak muda. Ini dibuktikan dengan adanya kata sloki. 

Satu sloki, dua sloki, tiga sloki, minuman perdamaian. Inilah minuman yang membesarkanku supaya tidak menjadi cengeng… dst
.”

Lebih dari itu, tidak menghilangkan esensinya tentang perdamaian.

Tuak dalam pesta dan ritual

Tuak dalam pesta atau upacara lainnya, misalnya, dalam upacara kematian dan peminangan. Dalam hal meminang gadis, ada istilah bekang dan wagal

Secara sederhana bekang adalah berkumpul bersama satu keluarga (klan/fam).

Saat yang sama keluarga saudara atau tanta-tanta (woe atau anak wina) datang ke kampung untuk membawa uang dan barang lainnya, demi meringankan beban nara (saudara) yang menikah.

Setelah bekang usai, dilanjutkan upacara wagal. Secara sederhana wagal artinya rangkaian upacara pemberian belis. Pihak keluarga pihak laki-laki (woe) mendatangi keluarga pihak mempelai perempuan (anak rona), untuk membawa belis atau maskawin. 

Dalam pembayaran belis ini juru bicara (tongka) kedua belah pihak akan bersepakat, negosiasi, komunikasi, bahkan baku debat, untuk kemudian memutuskan pembayaran maskawin tadi. Belisnya berupa sejumlah uang dan hewan piaraan (babi, kerbau, sapi dan kuda), serta kain songke sebagai lipa wida.

Dalam tradisi Manggarai, perkawinan bukan hanya soal hubungan si pria dan istrinya. Akan tetapi, itu menyangkut hubungan keluarga besar pria dan istrinya hingga kampung, yang disebut hubungan woe nelu.

Biasanya dalam upacara wagal ini dipentaskan juga tarian caci Manggarai (semacam tari perang, baku pecut), selama satu, dua atau tiga hari lamanya. Pria berani dan bernyali dari kampung laki-laki akan menantang kampung keluarga si istri dalam laga caci.

Namun, sebelum bekang dan wagal digelar, utusan keluarga anak rona tadi datang ke woe atau anak wina untuk memberi tahu ihwal upacara tersebut. Namanya sida. Dia datang untuk omong dan disertai tuak. 

Formulanya sama. Tujuan kedatangannya apa dan sebagai bentuk bahwa kedatangannya sangat resmi, maka dia membawa tuak dan memakai kain songke.

Saat wagal, bekang, kelas, atau penti (upacara syukuran akhir tahun), dan pesta adat lainnya, biasanya meminum tuak, baik tuak raja, maupun sopi. 

Minum dilakukan di rumah dengan cara duduk bersama-sama. Seluas rumah, seluas itu pula masyarakat yang duduk.

Dalam konteks ini, ada sebutan lonto torok atau padir wai rentu sai. Ungkapan ini merupakan metafora kebersamaan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan yang utuh atau tak terpisahkan.

Padir wai artinya duduk merentangkan kaki, sedangkan rentu sai (rentum) artinya kepala dipertemukan. Jika dibayangkan, orang banyak duduk merentangkan kaki dan mempertemukan kepala-kepala menjadi satu.

Jika kepala dan kaki dipertemukan, maka kelihatan seperti globe atau bulatan lonjong besar. Itulah simbol persatuan, kesatuan, kebersamaan dan kekeluargaan orang Manggarai yang tidak bisa dipisahkan.

Tuak untuk leluhur

Orang Manggarai meyakini bahwa keluarga yang sudah meninggal dan leluhur, merupakan orang-orang yang hidup di dunia seberang. Mereka disebut sebagai pelindung dan pemberi rezeki. Sebab diyakini bahwa mereka sudah berada bersama Tuhan Sang Pemilik Hidup (Mori Jari Dedek). 

Mereka diyakini sebagai perantara, oleh karenanya mereka tetap dihormati.

Penghormatan terhadap mereka dilakukan melalui ritual-ritual. Saat masa panen, misalnya. 

Sebelum memanen, sore sebelum keesokan harinya mengetam padi, dilakukan ritual khusus. Namanya tabar cicing. Materinya berupa telur. Telur itu kerap disebut “tuak”.

Dalam berbagai ritual juga, misalnya, saat memberikan sesajian di compang (susunan batu di tengah kampung dan ditanami pohon dadap), salah satu materi persembahanya adalah telur yang disebut tuak.

pohon enau
Pohon enau atau raping yang tumbuh liar di Manggarai. - Dokpri.

Tuak dan filosofi

Pohon enau juga memiliki banyak manfaat selain mince, gula merah, tuak dan sopi. Buahnya (longko raping) dimakan. Daunnya kerap dijadikan orang-orang tua sebagai dinding dan atap pondok di kebun (saung). 

Sedangkan ijuknya dijadikan atap rumah dan rumah adat (mbaru tembong).

Dalam perkembangannya banyak rumah adat di Manggarai menggunakan sing dengan arsitektur modern. 

Hanya beberapa kampung yang masih mempertahankan keasliannya dengan atap berbentuk kerucut dan ijuk (wunut). Di antaranya Mbaru Tembong Ruteng Pu’u di ibu kota Kabupaten Manggarai, Niang Todo dan Wae Rebo di bagian selatan Manggarai.

Karena tetap mempertahankan keasliannya itu, Kampung Wae Rebo akhirnya menyita perhatian dunia. 

Negara-negara di dunia melalui UNESCO mengakui Wae Rebo sebagai warisan dunia. Pada 27 Agustus 2012 dia memenangkan penghargaan Award Excellence UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation atau penghargaan untuk konservasi warisan budaya.

Wae Rebo berhasil mengalahkan rivalnya. Sementara Sethna di Mumbai, India menerima Awards of Distinction karena mempertahankan ciri khas perumahan abad ke-20.

Kini Wae Rebo menjadi objek kunjungan turis di Manggarai selain Mbaru Wunut Ruteng, Niang Todo, Liang Bua, dan Longko Cara di Cancar dengan lodok-nya (pusat), yang disebut menyerupai sarang laba-laba raksasa.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Manggarai gencar merenovasi atau memugar rumah adat (mbaru tembong atau mbaru gendang) dengan “kembali ke akar”.

Dalam pembangunannya, rumah-rumah itu kembali ke masa lalu yakni beratap kerucut. Ada yang beratap ijuk dan ada yang beratap seng. 

Meski begitu, tak dapat ditampik bahwa masih ada beberapa kampung yang rumah adat berdinding tembok demi alasan praktis.

Selain itu, pohon enau atau raping dan "rambutnya" yang tajam dan keras (rimang) menjadi metafora untuk doa dan nasihat. 

Ada ungkapan (go’et) seperti: “kimpur neho kiwung cama kiwung lopo, cimag neho rimang cama rimang rana”. Artinya, semoga tebal (mental dan fisik) seperti pohon tuak yang sudah tua, dan keras seperti rambut dan lidinya.

Tuak dan ekonomi

Setelah membahas tentang kegunaan tuak, lantas kita bertanya: dari mana tuak itu? Di setiap kampung ada orang yang ahli dalam pante tuak. Mereka mempunyai pengalaman dan keahlian khusus dalam melakukan pante dan mengolah tuak menjadi sopi.

Keahlian para tukang pante ini tak jarang diwariskan. Tapi banyak anak muda sekarang yang tak bisa pante tuak. Kecuali di kampung-kampung tertentu. Itu pun bisa dihitung dengan jari jumlahnya. 

Sebelum menempa ranting pohon tuak untuk menghasilkan air, ternyata mereka terlebih dahulu mengucapkan semacam ritual dan nyanyian (landu). Hal itu dilakukan agar ranting menghasilkan air enau yang banyak.

Selain diminum bersama di bawah pohonnya, tuak tadi dijual di pasar atau tempat-tempat pesta adat. Meski tiap kampung punya ahli tuak, saat upacara adat tuak harus disiapkan dalam jumlah yang banyak, sehingga harus dibeli di kampung lain.

Jarak antarkampung pun sangat jauh. Dibutuhkan perjalanan selama dua sampai tiga jam untuk mendapatkan tuak.

Uang hasil jualan tuak dan sopi kemudian bisa membeli garam, ikan, dan keperluan rumah tangga, bahkan bisa menyekolahkan anak-anak hingga ke perguruan tinggi. Itu tadi; dari tuak.

Dalam aktivitas budaya, orang Manggarai menggunakan tuak atau sopi. Misalnya seseorang atau pihak-pihak tertentu ingin membuat acara, maka dia harus memberitahu terlebih dahulu kepada pihak lain.

Dapat diketahui bahwa dia bakal melakukan pembicaraan penting jika di depan mata terlebih dahulu menunjukkan tuak atau sopi. Bukan bir.

Bir adalah minuman pihak lain. Dibawa dari luar. Diproduksi orang kaya atau pemodal besar.

Namun, dalam perkembangannya banyak orang Manggarai yang menggunakan bir. Padahal orang-orang tua dahulu tidak mengenal bir. Bir itu hanya menguntungkan pebisnis dan pemodal alias para elite. Bersambung. []

#Timoteus Rosario Marten

2026