Ternyata genderuwo itu setan

Genderuwo
Ilustrasi. - Pixabay

Sejak beberapa bulan terakhir saya penasaran dengan narasi yang satu ini: genderuwo. Terutama karena menonton televisi dan membaca berita-berita yang berseliweran di jagat maya
.

Saya pun langsung mengecek pada kamus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V (luring) ditulis, genderuwo artinya, 1) hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat; 2) pohon yang banyak tumbuh di kompleks pekuburan, berakar sangat dalam berbentuk mangkuk, bijinya mengandung asam lemak sterkulat.

Bicara tentang genderuwo ini jadi teringat saat masih SD dulu. Dulu kami senang mendengar cerita dongeng dari orang-orang tua.

Begitu pun di sekolah menengah pertama. Ketika itu kami tinggal di asrama, dengan disiplin dan tradisi Kristiani yang ketat. 

Meski rumah berada di kompleks sekolah, kami tinggal di asrama yang diasuh yayasan Katolik St. Stefanus Ketang. Anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi, suku dan kelompok wajib tinggal di asrama. 

Dongeng menjadi materi ganda-ganda atau obrolan menjelang tidur.

Satu kawan kami—sebut saja namanya Simus—paling jago mendongeng. Salah satu dongeng favorit kala itu adalah Empo Rua.

Dalam bahasa Manggarai, Flores, empo rua berasal kata empo dan rua. Empo artinya setan, cucu, dan nenek moyang, sedangkan rua artinya berbulu lebat. 

Rua juga berarti kependekan dari kata jenggerua (rambut berantakan). Jadi, empo rua artinya setan berbulu sangat lebat dan tidak karuan.

Dongeng empo rua membuat anak-anak kecil memang menyeramkan. Tambahan pula diceritakan saat malam menjelang tidur. 

Pasalnya, empo rua suka makan daging manusia, terutama anak kecil. Bicaranya pakai suara hidung. Biasanya dia ditemui di hutan. Tinggal sendiri di pondok.

Dalam dongeng empo rua dinarasikan memang menyerupai manusia. Tapi dia bodok, licik, dan mudah tertipu.

Alkisah, dua kakak-beradik terjebak masuk hutan. Malam-malam. 

Perjalanan melewati lembah, bukit, ngarai, jurang dan tebing, serta onak dan duri-duri tajam tentu melelahkan.

Hingga mereka menjumpai manusia tua yang ramah. Dia menawarkan tumpangan.

“Aduhhh anak sayang, bermalamlah di rumahku.”

Di tengah situasi seperti itu, dalam keluguannya, dua anak ini mengiyakan tawaran si empo. 

Tibalah saat makan malam. Tapi kakak-beradik ini tidak makan, karena lauknya menyerupai jari-jari dan daging manusia.

Empo rua mengira mereka makan dengan lahapnya. Dia memang melihat mereka samar-samar, sebab penerangnya hanya api.

Saat tidur, sang kakak punya firasat buruk. Dia pun hanya pura-pura tidur. 

Sebagai kakak, dia punya kewajiban moral untuk menjaga adiknya. 

Di lain sisi, dia juga harus memastikan, bahwa mereka harus tiba di kampung seberang sana dengan selamat. 

Mata sang kakak memicing dari balik posisi setengah tidur. Dia mengintai aktivitas si empo.

Ketika dia tahu empo masih memasak, sang kakak membangunkan adiknya. Betapa tidak, bahaya dan maut di depan mata. 

Mereka pun lari sekuat tenaga dan penuh keyakinan. Si empo kemudian tersadar, bahwa dia dikerjai dua bocah ini. Dia lalu mengejar, tapi mereka terus berlari. Mereka selamat. 

Dalam versi lain, seorang kawan–sebut saja namanya Bombong, menceritakan bahwa empo rua terus mengejar dan mendapati dua anak ini di atas pohon. Empo rua hendak memanjat pohon untuk menangkap dua bocah tadi. Tapi keduanya lebih pintar.

“Bagaimana kamu bisa naik ke atas pohon itu?”

“Tente one watu lolo, empo (dudukkan pantatmu ke batu yang tajam).”

“Aduh sakit, apakah tidak ada cara lain?”

“Ooo, kalau begitu, kepala ke bawah dan pantatmu ke atas!!”

Tanpa pikir panjang, empo rua mengikuti perintah mereka. Di situlah kesempatan bagi kakak-beradik untuk menjatuhkan lombok yang sudah diulek. 

Si empo berteriak sejadi-jadinya. Dia meronta-ronta meminta permohonan.

“Bagaimana saya mengobati pantat ini?”

“Benturkan pada batu yang tajam.”

Empo rua juga mengiyakan arahan itu dan dia akhirnya meninggal. Dua anak ini melanjutkan perjalanan pulang ke kampung. 

Eh, setan kok meninggal? Hmmm, begitulah ceritanya. Namanya juga dongeng.

Dari dongeng si empo rua, dalam beberapa dialek mengartikan rua dengan mendidih. Kami di Kedaluan Lelak menyebutnya lua.

Rua juga merupakan rait atau paci (julukan, gelar atau yel-yel kejantanan) dari pahlawan asal Manggarai, Motang Rua. 

Motang Rua atau Guru Ame Numpung lahir sekitar 1890-an di Beo Kina, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Flores. 

Motang Rua (1890-1952) dikenal pemberani dan tidak mau takluk pada penjajahan asing. Karena itu, ia harus bersikukuh mengusir mereka dari Tana Manggarai.

Meski senjatanya hanya toda dan cola koe (perisai dan kapak kecil), dia bersama kawan-kawannya berhasil mengusir penjajah. Dia juga punya ilmu kebal dan ilmu menghilang. 

Akan tetapi, dia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda dalam perang tahun 1900-an di Manggarai. Kemudian dipenjarakan di Aceh, Saigon (Vietnam), Batavia, dan Nusa Kambangan, sebelum akhirnya meninggal di Manggarai dalam usia 90 tahun.

Motang Rua diabadikan dalam nama lapangan bola kaki–yang kini menjadi halaman kantor bupati Manggarai di Ruteng–dan nama jalan, serta patung Motang Rua, dan lagu-lagu.

Motang rua adalah lalong tana Manggarai. Si jago tanah Manggarai. 

Orang Manggarai mengenalnya sebagai pahlawan, tapi kami tak pernah melihatnya dalam sejarah nasional di buku pelajaran sejarah, kecuali dalam muatan lokal dan sejarah alternatif.

Demikian sekilas etimologi empo dan rua serta empo rua. Lalu apakah empo rua berkaitan dengan genderuwo? 

Genderuwo barangkali istilah berbahasa Jawa, sedangkan empo rua untuk orang-orang Manggarai. Namun merujuk kepada satu hal: setan.

Genderuwo atau empo rua memang setan yang menakutkan. Dia berjalan kemana-kemana dengan akal yang licik seperti ular.

Oleh karena itu, keberadaan genderuwo atau empo rua, harus diwaspadai. Jangan sampai dia meneror dan merusak kehidupan kita. []


#2026

Timoteus Rosario Marten