![]() |
Berlayat ke seberang lautan. - Pixabay |
Aku tak pernah berpikir untuk meninggalkan kampung halaman. Apalagi merantau ke seberang lautan.
Bukan karena enggan melangkahkan kaki. Atau karena takut menumpangi kapal. Ketidaktahuan akan informasi adalah musababnya.
Bagiku, duniaku sebatas kampung halaman. Dalam pelajaran sekolah dasar dulu, aku mendapatkan informasi, bahwa Indonesia Raya terdiri dari ribuan pulau. Ratusan kabupaten. Provinsi apalagi.
Namun, bagiku tak ada dunia lain selain kampung halaman. Tanah tempat tali pusarku ditanam.
Waktu terus berlalu. Tahun dua ribu satu. Entah kenapa, aku bertekad untuk langgar laut. Menyeberangi samudera.
Tujuannya hanya satu: ingin tahu dunia luar. Ingin tahu tentang dunia sana. Ingin tahu tentang sudut samudera. Garis tepi lautan.
Sulawesi adalah tujuanku. Itu karena pandangan pertama pada sebuah pulau berbentuk berhuruf K. Pada sebuah atlas kusam.
Meski ada sebentuk huruf K di timur, Maluku, pilihan pertamaku adalah Sulawesi. Pulau itu berada di sebelah utara tanah airku.
Darah muda mengalir deras. Adrenalin memacu terus.
Kaki terasa pegal, ingin melangkah lebih jauh. Bertolak ke tempat terjauh melewati batas cakrawala. Menerabas gelombang.
Aku ingin mengarungi lautan lagi. Aku ingin membelok kemudi kapal kehidupan. Aku ingin menantang badai masa. Dengan kapal-kapal berjangkar raksasa.
Lima tahun di pulau ini. Hingga merantaulah aku ke Tanah Borneo. Di tengah rerimbun kayu ulin dan perkebunan sawit.
Di sini nasib segera berubah. Aku bekerja sebagai surveyor. Di sebuah perusahaan bernama PTS.
Pikirku, inilah tempat yang menafkahi aku kelak.
Dari sini nanti aku mendapatkan rupiah. Membeli susu sang anak. Membeli setelannya. Membiayai sekolahnya. Membeli baju dan gaun istri.
Dan mengirimkan mereka uang bulanan. Merekalah yang setia menanti kepulanganku.
Apa hendak dikata, perusahaan ini gulung tikar. Dia tak berdaya di depan krisis.
Ini tahun kesembilan aku di perantauan. Dua ribu sepuluh.
Aku tidak tahu kenapa perusahaan sebesar ini terkena dampak krisis. Padahal perusahaannya gede. Banyak afiliasi dengan pendonor Eropa.
Tiga tahun lebih aku bekerja di sini. Persis di tahun keempat, semua karyawan dipecat.
Aku pun ke perusahaan sawit bernama PT Mama. Dari sinilah aku kisah cintaku bermula. Cinta yang salah.
Tiga bulan aku di sini sebagai tenaga kerja musiman. Tapi..
Aku merasa bahwa upahku tidak sesuai dengan pengeluaran sehari-hari. Ibaratnya besar pasak daripada tiang.
Setiap hari kasbon pada sebuah warung. Tuan warung adalah orang berbaik hati dan peka.
Kami diberi kepercayaan. Bahwa sebesar apa pun utang warung, kami segera lunasi bila tiba hari gajian.
Aku mencoba membanting setir lagi. Memutuskan bekerja sebagai tenaga pemborong.
Hari berganti hari. Tiga bulan sudah. Namun, hasilnya tetap sama. Aku tidak berubah.
Utang di warung malah makin menumpuk. Berawal dari satu juta rupiah, hingga tiga juta rupiah. Begitu seterusnya.
Aku pun berusaha melunasi utangku. Pinjam sana-sini. Namun sia-sia, utang tak kunjung lunas.
Di tengah pergumulan ini, aku terus berdoa. Sekadar meminta petunjuk dari-Nya. Sekadar menenangkan pikiran. Sekadar mencari solusi. Sbab aku kebingungan.
Tiba-tiba seorang teman mendekatiku. Teman senasib dan sepenanggungan ini menawarkan bantuan.
“Wan, aku punya uang, tapi tidak ada di saku,” katanya.
Kebetulan dia juga pernah bekerja sebagai tenaga borongan. Betapa senang hatiku mendengar tawaran ini. Seperti mendapat seteguk nira tatkala kehausan di siang bolong, di kampung halaman.
Aku melompat-lompat seperti anak kambing. Bermanuver bak anak-anak kucing. Hati berbunga-bunga.
Tanpa banyak bicara lagi, aku dan dia ke perusahaan. Tuk mengambil uang yang dimaksud.
Menuju ke sana bukan perkara mudah. Kami harus menaiki motor. Dua puluh kilometer jauhnya. Melewati jalanan beraspal, menyibak pepohonan.
Tetiba setengah perjalanan telepon selulerku berdering. Tapi nomor tersebut tidak terdaftar dalam kontak ponselku.
“Stop dulu, kawan!!”
Aku meminta kawan ini untuk menepi sejenak. Sekadar meladeni suara di ujung sana.
“Halo!”
“Iya, halo!
“Dengan siapa, ya?”
Dari balik telepon dia menjawab kegirangan.
“Kak Hans?”
Pixabay
Suaranya merdu. Aku bisa merasakan suara semerdu itu adalah gadis pujaan segala tatapan.
Dia kegirangan. Sumringah seperti sedang menelepon sosok yang sudah lama menghilang dari kehidupannya. Bakar-menyala seperti sopi. Kesengsem seperti meluapkan rindu yang terpendam.
Tapi aku tetap penasaran. Karena tiba-tiba suara telepon putus.
“Ah, orang ini mengganggu saja.”
Lima menit kemudian…
“Kring! Kring!”
Aku merogoh ponsel dari saku. Rupanya masih nomor yang sama.
“Maaf, dengan siapa, ya?”
“Waduh, Kak Hans jangan bercanda dong. Ini aku. Mau pinjam skripsinya. Kamu kemarin ke kampus, kan? Aku takut ketinggalan mata kuliah. Tolong, ya!” katanya.
“Mbak, maaf yah, aku bukan Hans. Kamu siapa dan dimana?”
Aku semakin bingung. Sedangkan dia terus mengelak. Menyebut namaku berkali-kali sebagai Hans.
“Waduh, salah sambung, Mbak. Maaf.”
Tiga menit kemudian dia menelepon. Masa bodoh. Ini salah sambung.
Perjalanan kami dilanjutkan. Perusahaan masih jauh. Sedangkan udara terus menggoyangkan dedaunan dan ranting-ranting.
Huhhhh, dasar perempuan! Dia menelepon lagi.
Darahku mulai mendidih. Aku pun memutuskan untuk menonaktifkan gawai.
“Kenapa HP-mu nonaktif, bro?” Tanya kawanku.
“Penelponnya tidak jelas. Sok tahu lagi.”
Dari jarak seratus meter tampaklah perusahaan, di antara pohon nan daun menghijau tua. Kami pun tiba.
Tapi sialan. Uang kawanku terlanjur dialihkan. Kontraktor keburu memberinya kepada seorang pembeli bensin kemarin.
“Kamu mau menipu aku ya?” kataku dengan nada meninggi kepada kawan ini.
Aku memakluminya. Toh dia hanya pekerja borongan. Aku segera paham bahwa lahan yang dikerjakannya tidak cukup bayaran segitu. Kami lantas pulang dengan membawa sebongkah rasa kecewa.
“Halo! Maaf! Dari tadi menelepon terus. Aku bukan Hans, mengerti? Aku cuma tamatan ‘celana merah hati’. Tak pernah kuliah.”
Aku kesal dengan si penelpon. Lantas kumatikan lagi ponselku.
Aku ingat betul bahwa hari ini adalah hari Minggu. Sepanjang hari aku dibuat sibuk.
Salah sambung, tapi dia tetap ngotot bahwa aku adalah Hans. Sebenarnya dia ini siapa ya?
Hari sudah gelap. Udara pukul 7 malam membuatku harus berjaket tebal.
Tiba-tiba ponsel bergetar. Bak alarm kematian.
Astaga!! Aku lupa menonaktifkan gawai. Seingatku sudah nonaktif. Ternyata masih bergetar.
“Halo!”
“Iya, ada apa, ya?”
“Apa betul ini bukan Hans?”
“Aduh mamae, sampai berapa kali sih aku harus berkata jujur? Aku bukan Hans. Kamu kok tau nomorku?”
“Dari teman, Kak.”
“Oh, begitu ya? Tolong berita tahu siapa dia dan tinggal dimana?”
“Gak usah deh, Mas! Gak perlu. Kalau memang bukan Hans. Tidak perlu lagi aku kasih tahu namaku. Kan salah sambung.”
“Tapi, kok salah sambung yang kedua kalinya, kamu yakin Mbak? Kalau begitu aku hapus nomormu.”
“Tapi gak apa-apa, ya, kalau aku menelponmu kapan-kapan, ya Mas?”
“Oh, gak apa-apa kok, kali saja kau kelimpahan pulsa.”
“Terima kasih!”
“Kok terima kasih? Kan bukan aku yang nelpon? Tapi ngomong-ngomong, aku minta maaf, ya! Tadi siang marah-marah melulu. Aku sih kesal karena HP berdering terus sepanjang perjalanan.”
“Iya, Mas. Aku mengerti, kok. Aku juga minta maaf, ya. Tadi aku memang mendengar suara motor di ujung telpon.”
“Baiklah….”
“Mas, sebentar aku telpon lagi, bisa nggak?”
“Gak apa-apa sih. Tapi, maaf kalau nomorku di luar jangkauan.”
“Bagus kok suara kamu. Selamat malam ya. Mimpi indah,” jawabnya menggoda.
“Iya, sama-sama, Mbak!”
Malam ini aku terus bertanya-tanya. Si penelepon asing itu kok langsung akrab.
Padahal baru kenalan. Aku memarahinya pula. Tidak kapok memangnya? Hmmm, dasar!!
Bayangan akan suaranya di ujung telepon, membuat malamku makin panjang. Aku terjaga hingga kantuk segera hilang.
Aku terus mencari tahu. Tapi tak ada satu pun yang mengenalnya.
Aku terus bertanya-tanya hingga pagi datang lagi. Sepanjang malamku hanya memikirkan suara itu.
“Halo. Selamat pagi, Mas!” Tiba-tiba dia meneleponku lagi pagi ini.
“Pagi juga, Mbak!”
“Semalam mimpi aku ya?”
“Tidak!!! Kamu kok PD sekali? Ke-GR-an!!”
“Ya, kan cuma tanya aja, Mas. Emang gak boleh ya?”
“Tidak juga sih. Tapi maaf, Mbak, ngomong-ngomong namanya siapa ya? Kalau boleh tahu. Masa dari kemarin sampai hari ini, kamu belum memperkenalkan nama. Jadi, aku harus panggil mbak siapa?"
“Ah, apalah arti sebuah nama kalau nantinya juga aku dianggap berbohong,” jawabnya lembut.
“Ya, siapa tahu kita jodoh kan Mbak!! Masa namanya saja pelit. Huh!!”
Dia pun tertawa. Dan aku tersenyum sembari menatap HP.
“Amin, ya Mas. Tapi nanti, ya, Mas. Tiga hari lagi aku memperkenalkan identitasku.”
Jawaban mengambang seperti itu, membuatku semakin penasaran. SKSD. Sok kenal sok dekat.
Sebenarnya aku setengah senang. Seolah kami saling mengenal.
Tapi, dia tahu nomorku dari siapa ya? Ah, ini orang mau ngerjain saja. Aku tidak percaya ini betulan. Ini cuma mimpi.
Aku dan dia memang tidak pernah kenalan. Tapi hari ini kami tampak akrab.
Tidak ada kata gombalan dariku. Ataupun larik-puisi. Sitiran para bijak apalagi.
Hanya canda tawa di ujung telepon. Seperti kebanyakan pria, sebenarnya nama itu penting saat berkenalan.
Ini tidak. Namanya masih dirahasiakan.
Percakapan tiga jam melalui sambungan telepon tak terasa, meski dia tetap misterius.
“Mas, aku senang sekali bisa ngobrol sama kamu. Senang sekali.”
“Ah, biasa saja kok.”
“Iya, Mas. Aku serius lo.”
“Serius, Mbak?”
“Entah apa yang membuatku senang seperti ini. Aku tidak pernah merasakan sesenang ini sebelumnya,” jawabnya merayu.
Aku berusaha menyela percakapan. Tapi dia terus mencecarku.
“Mas, Mas. Bisa gak, aku telepon kamu terus?”
“Terserah!! Tapi aku gak punya pulsa.”
“Gak apa-apa, Mas. Aku saja yang menelpon. Asalkan kamu bersedia. Itu sudah cukup.”
Tiba-tiba terdengar suara tut, tut. Aku tersenyum seperti sedang minum sopi. Bersambung. []
#2024
Posting Komentar untuk "Mengecap seteguk nira (1/11)"