
Dia pun mendekat dan menyentuh tulisan itu pada Selasa pagi, 28 Maret 2026. - Dokpri
"Papa!!"
"Iyoo!"
"Ayo, kita lihat ABC sudah!"
"Baik sudah."
Lalu anak ini menuju tembok bertulis SD Inpres Nati itu. Sedangkan saya diam-diam memotretnya dari belakang.
Dari kejauhan tampak di belakang tulisan itu gunung-gunung dan bukit bertumpukan. Gugusannya tertata rapi. Beratap langit biru dengan mentari pagi yang hangat.
Anak ini jalan pelan. Ujung rambutnya, yang pirang dan bergelombang, berderai bak gulungan ombak Laut Arafuru.
Angin gunung yang bersilir-silir membuat rambutnya begitu menawan. Bercahaya dan pirang. Berpadu dengan kostum bola bertuliskan “Messi”.
Dia pun mendekat dan menyentuh tulisan itu pada Selasa pagi, 28 Maret 2026.
Dia memang selalu menyahut "itu ABC" jika menemukan bacaan atau tulisan. Hampir pasti dia berhenti atau menyinggahi tulisan itu.
Yang dia maksud ABC, bukan merek produk yang itu. Tapi tulisan. Bacaan. Aksara dan angka.
Padahal dia belum bisa baca-tulis. Apalagi mengeja. Tapi su bisa menghitung satu sampai sepuluh. Maklum, usianya masih dua tahun enam bulan.
Bila melihat baliho, spanduk, atau papan reklame, grafiti, atau apapun bentuk tulisannya, dia selalu bilang "itu ABC". Di kaus, karton, bungkusan makanan ringan, dan lain-lain.
Dia juga sering bertanya, "itu apa?" jika melihat sesuatu. Apapun itu.
Pokoknya dia banyak tanya. Tanya banyak.
Kadang saya malas juga menjawabnya. Terlalu banyak tanya jadinya malas menjawabnya.
Tapi begitulah dia adanya. Mau bilang apa, itu sudah bawaannya.
Sejak usia satu tahun anak ini mulai menampakkan keingintahuannya dengan bertanya sana-sini. Rasa ingin tahu dan banyak tanya.
Dia juga kadang-kadang omong sendirian. Semua mainannya dibikin berantakan.
Pagi-pagi saat bangun, dia tanya mainnya. Main sendirian di depan rumah.
Sambil muat tanah, kerikil dan kaleng-kaleng atau kasi romol mainan, dia omong sendiri. Pokoknya bikin saya diam-diam tersenyum dan tertawa.
Singkat cerita, sepulang lihat ABC tadi, kami balik kanan. Dia minta digendong. Itu karena dia capek setelah setengah jam jalan-jalan.
Saya lalu menaruhnya di pundak. Kami menyebutnya lancok. Lalu kami tancap gas.
Kami menelusuri turunan jalan desa. Di jalan beraspal seadanya. Berlubang. Berkerikil. Berkelok. Kualitas jalan seadanya. Jalan desa gitu, lho.
Tapi udaranya sejuk. Berembus, masuk melalui ubun-ubun dan pori-pori. Disertai sengatan matahari di ubun-ubun.
Jalanan ini berdinding pohon-pohon. Juga semak-semak, perbukitan dan persawahan. Pemandangan khas desa pedalaman yang begitu memanjakan mata.
"Papa, itu sawah," kata anak ini histeris.
"Iyo, itu sawah punya om, opa dan tanta," saya menjawab sekenanya.
Kami lalu jalan terus. Mengayun langkah sambil ngobrol. Omong-omong apa saja asal dia senang.
“Papa, saya mau beli…..”
“Oh, iyooo sedikit lagi kita sampai di rumah,” saya memotong omongannya.
Su tahu to. Ternyata dia ada maunya. Pura-pura banyak tanya, diselip modus pribadi. Beli jajan.
Tapi saya salut. Lalu membatin, anak pintarnya papa! Air mata saya turun pelan dari sudut mata.
Saya menduga kelak dia menjadi anak yang kritis, cerdas, kreatif dan humoris. Paling tidak, itu sa pu harapan.
Terbaca dari tanda-tanda awal saat dia batita atau bawah tiga tahun. Tanda itu mulai tampak.
Tanda itu tadi–Itu ABC. Banyak tanya, banyak tahu. Banyak minta, banyak dapat. Banyak gerak walau kadang kecapekan. Banyak omong. Banyak akal. Dan banyak hal lainnya. Pokoknya banyak. []
#Awal April 2026
Timoteus Rosario Marten