Lonceng gereja Ketang berdentang panjang. Itu tak biasa. Lonceng ini berdentang panjang sekali.
Ada apa ya?
Ini memang tak biasa. Sepertinya ada sesuatu. Entah kabar atau kejadian terbaru.
Pertanyaan ini merasuki pikiran saya. Juga bapak saya. Ditambah keponakan dan sepupu.
Kami masih bacarita di teras rumah, Minggu petang ini. Mendengar bunyi lonceng gereja yang tak biasa ini, membuat kami bertanya-tanya.
Lalu serentak konsen pada bunyi lonceng yang panjang itu.
“Mungkin panggil orang Lentang ke gereja untuk sembahyang,” celetuk keponakan saya, disertai nada guyon dan tawa kami.
“Bisa jadi, tapi ada apa, ya?”
Di Ketang ini ada dua jenis bunyi lonceng. Satu lonceng sekolah SMPK St. Stefanus Ketang. Satu lagi lonceng gereja Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Rejeng-Ketang.
Lonceng gereja biasanya berdentang untuk mengajak umat, agar segera mengikuti misa. Atau saat misa berlangsung, terutama pada misa Natal atau Paskah.
Lonceng juga dibunyikan pada pukul 6 pagi, pukul 12 siang dan pukul 6 petang. Itu pertanda saatnya untuk doa angelus.
Persis lonceng ini berdentang sekitar pukul 6 petang, saat kami bersantai di depan teras. Ada apa ya?
Pertanyaan itu segera terjawab. Pater Thomas Krump SVD dikabarkan meninggal dunia di Ruteng. Dia meninggal karena sakit yang begitu lama.
Sebelumnya beliau dirawat di Rumah Sakit St. Rafael Cancar. Lalu dirujuk ke RSUD Ben Mboi Ruteng. Hingga mengembuskan nafas terakhirnya pada Minggu sore, 15 Maret 2026.
Pater Thomas Krump SVD adalah misionaris asal Hongaria. Dia mengabdi sebagai pastor paroki Rejeng- Ketang sejak tahun 1964. Dan pensiun tahun 2016.
Beberapa tahun terakhir di masa pensiunnya, dia sering sakit. Jalan pakai dua tongkat. Beroda.
Tapi kabut duka itu menyelimuti langit Paroki Rejeng-Ketang. Pater Thomas pergi untuk selamanya di usia 92 tahun.
Usia yang sepuh sekali. Tapi di usia senjanya itu, ingatannya masih segar. Suaranya juga masih nyaring dan kadang-kadang lucu.
Banyak umat yang mengucapkan belasungkawa. Doa dan harapan. Bertebaran di media sosial menyusul kepergiannya.
Juga kenangan-kenangan bersamanya selama melayani umat di Paroki Rejeng-Ketang.
“Dia kalau pergi patroli dulu bawa dua kuda. Satu untuk dia, satu lainnya bawa peralatan misa dan sebombon atau gula-gula untuk anak-anak, serta obat-obatan,” kata orang-orang tua di kampung saya.
Bunyi lonceng tadi, yang panjang itu, mengingatkan saya pada beliau, yang rajin membunyikan lonceng gereja saat pukul 6 sore, pukul 12 siang atau pukul 6 sore di Ketang.
Sebagai umat Paroki Rejeng-Ketang, alumnus SMPK St. Stefanus Ketang, dan tetangga gereja, saya sering melihat dia membunyikan lonceng di gereja.
Jalannya khas. Agak miring. Pater Thomas datang dari pastoran ke gereja saat jam-jam tertentu untuk membunyikan lonceng.
Dia tarik pelan. Satu-satu. Lalu agak panjang.
Teng! Tang!
Lalu berdentang-dentang. Teng!!! Teng!!! Teng!!
Ketika dia membunyikan lonceng, anjing-anjing di pastoran juga menggonggong rame. Ramai dan riuh. Suara lonceng dan lolongan anjing bersamaan.
Tapi anjing-anjing diam ketika lonceng juga berhenti. Lalu sunyi.
Namun, lonceng yang berdentang Minggu petang ini, saat angin gunung berembus pelan, dan hujan absen turun, merupakan lonceng kematian Tuang Thomas.
Beristirahatlah dalam damai, Pater! Titip salam ke tanah air surgawi. Umat Paroki Rejeng-Ketang akan selalu mengenang dan mendoakanmu.
Teruslah membunyikan lonceng di jiwa kami. Membangunkan kami, yang terlelap dalam tidur panjang hingga lupa ke gereja. RIP. []
#15 Maret 2026
Timoteus Rosario Marten

