Ketua Komisi A DPRD Manggarai (kemeja putih) Vinsensius Supriadi, bincang-bincang bersama alumni usai bagikan 600 buku di SMPK St. Stefanus Ketang, Rabu (17/6/2026). - Dokpri.
Pria berkemeja putih lengan panjang itu namanya Vinsensius Supriadi. Biasa dipanggil Sensi atau Vinsen.
Dia dari Golo Worok, Desa Golo Worok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Saya mengenal kawan Sensi sejak SMP. Sebab kami satu angkatan di SMPK Santu Stefanus Ketang, Kabupaten Manggarai, NTT. Saya kelas 1A – 3A dan dia kelas 1B – 3B. Tapi sama-sama tinggal di asrama selama tiga tahun itu.
Setelah itu dia lanjut ke SMAK St. Familia Wae Nakeng, Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, dan saya ke seminari Labuan Bajo.
Tak ada kontak setamat SMA. Belakangan saya mendapat info bahwa beliau belajar Ilmu Komunikasi di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Jawa Timur. Hingga menamatkan pendidikan magister Ilmu Komunikasi pada lembaga yang sama.
Dia aktif di PMKRI Surabaya. Juga pernah menjadi jurnalis.
Dulu kami sering telpon-telponan. Omon-omon banyak hal.
Kemudian Sensi pulang kampung. Maju legislatif di DPRD Manggarai Barat dari partai Garuda di Labuan Bajo.
Tahun lalu anak muda ini maju lagi di legislatif Kabupaten Manggarai. Gayung bersambut. Dia lalu terpilih sebagai anggota DPRD Manggarai dari PKB, tahun 2024.
Dia dari dapil Kecamatan Lelak, Kecamatan Ruteng dan Kecamatan Rahong Utara (Rahut).
Di kursi dewan terhormat, Sensi memimpin Komisi A DPRD Manggarai. Komisi itu membidangi pendidikan dan kesehatan.
Tak sengaja saya ketemu dia di Pong Kondo, Desa Bangka Lelak, Jumat pagi, 13 Februari 2026. Mobil putihnya berpapasan dengan saya.
Kebetulan saya sedang mengantar maitua ke Puskesmas Ketang di Kawong. Dari Kampung Nati, Desa Nati, saya singgah di Lentang, lalu dilanjutkan ke Puskesmas Kawong.
Ketika sampai di rumah, saya kirim pesan WA ke dia. Tanya kemana.
Dia bilang sedang mengikuti Musyawarah Rencana Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah atau Musrembang RKPD tingkat Kecamatan Lelak, di Kawong.
Saya pikir ini momen reuni yang pas. Saya mengajaknya ke rumah. Sekadar mampir sebentar untuk ganda-ganda. Dia setuju.
Ketang, tentu saja, tidak hanya daerah pemilihan. Tapi merupakan tempat dimana masa remaja beliau dibentuk selama tiga tahun. Apalagi leluhurnya berasal dari Kampung Redo, Kecamatan Lelak.
Maka ke Ketang berarti kembali ke masa lalu. Semacam napak tilas. Atau sekadar KKL alias Ketemu Kawan Lama.
Tapi lebih dari 22 menit pada pukul 2, sore itu, dia menelpon saya via aplikasi WhatsApp. Ternyata dia berhalangan untuk jumpa kecil-kecilan alias ngopi-ngopi.
Kabarnya ada RDP itu tadi. Anytime lahhh. Dan dia setuju.
“Saya di SMP Ketang hari ini,” demikian pesan WhatsApp pada Rabu pagi, 17 Juni 2026.
Tak butuh waktu lama, saya tancap gas usai memberi makan MBG si Enos.
Ternyata pria yang suka humor itu ke SMPK St. Stefanus Ketang, untuk memberikan 600 buku gratis.
Saya tak membacanya. Tapi tampak berjudul “Pengharapan untuk Hari Esok”. Agak tipis dengan ukuran buku pelajaran.
Selain bagi-bagi buku dia juga melakukan sosialisasi aspirasi Program Indonesia Pintar atau PIP fraksi PKB di sekolah ini. Sebanyak 43 siswa yang hadir. Ditambah orang tua murid.
Saya tak memasuki ruangan. Hanya duduk di gazebo, di kompleks sekolah.
Rerimbun pepohonan dan bunga-bunga memikat mata. Angin mengelus manja hingga nyaris tertidur.
Udaranya sejuk. Pemandangan sekolah begitu hijau. Letaknya persis di perbukitan.
Satu kompleks dengan SMAK St. Stefanus Ketang dan Gereja Paroki St. Perawan Maria Diangkat ke Surga, Rejeng-Ketang.
Kami omong-omong di gazebo. Bicara kecil-kecil. Diskusikan hal-hal receh. Diselingi tawa dan jokes ringan.
Sebagai sesama anak muda, kami bahas banyak hal. Tentu hal yang ringan-ringan. Yang berat-berat itu nanti di tempat lain.
Yang membuat saya terkesan, Sensi masih seperti dulu. Dia humble. Sederhana. Merakyat.
Praktis pejabat model begini sering saya jumpai di Tanah Papua. Kebanyakan pejabat di Papua itu sederhana, merakyat, dan humble.
Bahkan saking dekatnya, saat wawancara, kami memanggil “kaka” atau “bapa” untuk pejabat itu.
Sensi seperti itu. Hampir pasti tak memperlihatkan bahwa dia seorang pejabat. Paling tidak, menurut saya.
Galibnya memang pejabat jaga jarak. Tapi tidak dengan pria, yang jago menggocek si kulit bundar di lapangan hijau ini.
Kali ini, bagi saya, dia bukan sebagai legislatif. Dan saya bukan sebagai wartawan dan editor.
Tapi, kami memposisikan diri sebagai kawan lama. Yang saling bercanda. Yang saling olok-olok.
Kadang diselingi dengan memanggil nama orang tua masing-masing, seperti saat masih remaja.
Suasana begitu hidup ketika alumni lainnya, Hery Nong Rato, Yosep Emanuel Natung dan Kaka Urbanus Kadijo nimbrung.
“Saya sebagai alumni merasa bangga, karena hari ini Ketua Komisi A DPRD Manggarai datang membawa bantuan buku dan sosialisasi aspirasi PIP,” kata Urbanus.
Urbanus adalah alumni. Dia aktif di bidang pemberdayaan petani milenial di Kampung Lamba, Desa Ketang, Kecamatan Lelak.
Katanya sudah setahun di bawah bimbingan Yayasan Bina Tani Sejahtera. Dia sukses menggerakkan petani muda di kampungnya.
Dari situ saya curi-curi waktu, ke ruangan kelas lagi. Tempat sosialisasi tadi.
Saya bincang-bincang dengan kepala sekolah, Frans Panja.
Kepala sekolah senang. Bangga juga. Sebab ada alumni yang menjadi politisi dan kembali ke pangkuan almamater.
Apalagi, politisi ini tak sekadar bikin kunjungan. Tapi bawa kabar gembira. Bala bantuan.
Dia bilang, sekolah ini baru mendapat bantuan seperti tadi. Memang bantuan serupa pernah ada. Sekira tujuh atau delapan tahun lalu. Waktu itu dari partai Gerindra.
Dan baru kali ini ada lagi.
Dari perbincangan sekitar sepuluh menit, ada tiga poin yang membuat saya tersedak. Pasalnya bahwa sekolah ini tak punya pagar keliling, tak punya kantor sekolah, dan ruangan kelas terbatas.
Maka dari itu, tiap penerimaan murid baru dibatasi. Sekitar lima atau enam kelas.
Kondisi ini membuat kepala sekolah berharap agar pemerintah bisa membuka mata. Paling tidak, kehadiran anggota legislatif Sensi tadi menjadi jembatan.
Zaman kami dulu cuma dua kelas. Semua tinggal di asrama; kelas satu sampai tiga. Enam kelas.
Begitulah sekilas menapak di rahim almamater ini. Santu Stefanus Ketang.
Pada Agustus tahun ini, SMP Ketang boleh merayakan pesta pancawindu.
Tentu ada harapan; bahwa lembaga ini menjadi sekolah Katolik yang bermutu untuk mendidik generasi Manggarai yang berkarakter, bermoral, dan cerdas. Seperti judul buku tadi: Pengharapan Untuk Hari Esok. []
#2026
Timoteus Rosario Marten